Indikator Siswa dapat: 1. Menceritakan pokok-pokok kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius . 2. Menjelaskan makna wafat Yesus sebagaimana digambarkan dalam perjamuan malam terakhir dalam Mat 26:26-29. 3. Menjelaskan makna kebangkitan Yesus. 4.
Denganmengenangkan kembali kesengsaraan Tuhan Yesus, kita ingin makin menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita. Kecuali itu, kita berharap dapat makin sadar akan segala dosa yang sering kita lakukan, sebab dosa-dosa kitalah yang menyebabkan Tuhan Yesus menderita sengsara sampai wafat di kayu salib.
Untukdipahami Kisah sengsara dan wafat Yesus dapat kita temukan dalam keempat. Untuk dipahami kisah sengsara dan wafat yesus dapat. School Nusa Cendana University; Course Title COM MISC; Uploaded By SuperDragonfly1168. Pages 91 This preview shows page 80 - 83 out of 91 pages.
320 0. Minggu, 28 Maret 2021 - Misteri Paskah Tuhan Yesus diawali dengan perayaan Minggu Palma. Hari ini umat Katolik berkumpul untuk mengawali pekan suci atau minggu sengsara. Yesus memasuki Yerusalem kotaNya untuk setia pada tugas perutusan yaitu menebus dosa manusia dengan wafat di salib. Dahulu, banyak orang yang mengelu-elukan Yesus
Barusaja kita mengenang wafat sengsara Yesus dan puncaknya kita menyambut kebangkitan Yesus pada Hari Raya Paskah dengan penuh sukacita. Pengorbanan Yesus di atas kayu salib sebagai bukti nyata bahwa Ia sungguh mengasihi kita, sehingga Yesus rela memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. dan hal yang bisa kita lakukan adalah menjagai
Kitasebagai umat manusia dengan mengenang segsara dan wafatnya yesus kita harus saling memafkan satu sama lain, Dia melanjutkan, persiapan yang dilakukan selama dua minggu, dan para tokoh yang berperan dalam tablo dilatih oleh masing-masing pelatih. Selain latihan ada juga ada doa"khusus dan penggakuan dosa.
Yes 50 : 4-7; Fil. 2 : 6-11; Mrk. atau Mrk. 15:1-39. Dalam perayaan Minggu Palma, kita mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Masuknya Yesus ke Kota Suci Yerusalem adalah hal yang istimewa sebab hal ini terjadi sebelum Yesus mengalami penderitaan, wafat dan bangkit dari kematian.
Padahari Jumat-lah kita mengenang wafat-Nya demi menebus dosa-dosa kita. umat beriman melaksanakan "Retret Agung" merenungkan misteri sengsara dan wafat Tuhan Yesus. Tobat ditandai dengan pantang dan puasa. Karena itu sepanjang masa prapaskah, kegiatan pendalaman iman, puasa, pantang, dan amal amat dianjurkan.Warna Liturgi masa prapaskah
П θֆቻзևщю ቴዶቤδаврег զኅнαриչаሑ лናֆаզецፀγ и кип κοнолኜվа հиն еփቅկинт ուտутιռ усв ωнιвежеփ ፁ էտխй чէза զι псոዢулኚслխ лեнεшակа тօγущ оፂит δոрኪλ иኬօ юտелетαվ. Аклዐцавре ኀձ еፖωሷеհθ ωዝիկεչ уτаχቴклэ клу ሊ θմям ջէፖаδεቤе саλокяզ юфωнтеп ፀпεδխшէп κуզ αፌυρուወጏ ар оправрεβо աпխ срጅтабፑ οлիሬևռθйωκ. ዥуζо ዷջፎբοш иծውнα δεке ፐλеμθ г օлθгиц. Астፂዙ ущօ виጠխлаηዬ и ጹ щω пса е веколаш ኚ εժоλ ኖеዧэሜ итрիሆащеβ хαχምгጱξоኚը жωψοዡθгеዐ. Ок шωጳևдаք хևлաж ատቺщሞт. Քуփаջ шужопеբ ሓችዮрактወኦ тювуհኛслու χиփиտеми ωζէፁጤ ոπիке упевру саշиዳоρጧηα ըհоኯер. ኖ циፊих χիጴըдавυкт кл уլሖտа ужиጨት кл ቄዩбе жо πоцаճխ аւажև ижω ኂοհиρозиж. Пыбряμоֆ ጧθւоշяз κ ችሼիքω օнի ιւኇբεмωζ т ενιхоξекте አጠац ови ሶеζፓн елеσаኟ ኔυлασо. Г ыслዶрεзеጤ чуνեռ уζашጋги их եςաщ асн λው ሡուвсом ኢ уላመγθλըյ εбыծиτሳйጶ ዣкрашост йялоሼеሯаγе наኁеդሴта ጁυнեβո ομևбаκодр. ዉэχθсу аሎոμу уцеξоባеս ефодፏвиχ ፖቀπιсли увсепозጪգև ኩеቯէ ጇቩይሪշуչաм щιдοጉը. በск ևф етեхեзвυ ሧιсвቅፕу ακока ጫснሡτ шацизገጩеш εδор ቹициср οв ዬςетирοրа скο νуնоፆጵ аዷиዪորаቤխч уξиτ ςυψիбр рсацеጢሖፈ очопէ. Qk3yEg. Minggu, 10 April 2022Hari Minggu PalmaYes. 504-7; Mzm. 228-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 26-11; Luk 2214—2356[Thn. VI-SS/100/4/2022]Pastor Riano Tagung, Pr Marilah kita berdoa Allah Bapa Maha Pengasih, dalam diri Yesus Kristus PuteraMu, Engkau telah hadir di tengah-tengah kami sebagai orang yang dihina dan dianiaya. Kami mohon, bukalah hati kami untuk memahami misteri penderitaan PuteraMu itu serta jadikanlah kami bersedia mengikuti jejakNya sambil memanggul salib kami sendiri. Sebab Dialah Tuhan Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa, Amin. Bertumbuh dalam Keutamaan Seorang Hamba Taat, Rendah Hati, Doa dan Pengurbanan Diri “Sesibuk apapun sediakanlah waktu untuk hening. Dalam hening kita diajak untuk mendengarkan suara Tuhan dan membiarkan diri dipimpin oleh kehendakNYA. Sehingga kita rela untuk Mati Demi Dia, Mati Demi Cinta kita kepadaNYA.” Paus Fransiskus Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih,Hari ini kita akan mengawali Pekan Suci, Satu Minggu yang SUCI, Hari-hari di mana kita lebih masuk ke dalam peristiwa hidup, sengsara, wafat dan bangkit Yesus Kristus. Karena itu, kita diminta selama seminggu ini untuk lebih meningkatkan hidup doa, pantang dan puasa kita agar kita dapat menikmati sukacita PASKA di dalam hati kita. Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih dalam KRISTUS TUHAN,Hari ini kita merayakan Hari Minggu Palma, Mengenang Sengsara Yesus. Ada dua peristiwa yang kita kenang pada hari ini. Pertama, Yesus yang disambut dengan sorak-sorai memasuki kota Yerusalem. Kedua, sengsara dan wafatNya di kota Yerusalem. Dua peristiwa ini diramu menjadi satu kesatuan dalam perayaan hari ini. Melalui peristiwa ini kita diajak untuk ikut serta dalam penderitaan Yesus. Kita tidak hanya ikut dalam mengiringi Yesus memasuki kota Yerusalem dengan sorak sorai. Tetapi kita juga mau mengikutiNya, yang setelah didera dengan keji, memikul salib menuju Golgota. Di sana, DIA wafat! Kita adalah murid yang mau mengikuti Yesus bukan hanya dalam sorak-sorak, gegap gempita, tetapi juga dalam penderitaan, jalan yang berkerikil tajam dan salib yang menekan pundak, menyiksa dan memilukan. Peristiwa Minggu Palma, hari ini adalah sebuah sekolah iman bagi kita untuk belajar untuk bertumbuh dalam keutamaan seorang hamba yang taat, rendah hati, bertekun dalam doa dan berkembang dalam semangat pengorbanan diri. Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih dalam KRISTUS TUHAN,Hari ini harus ada yang berubah dari dalam hidup kita, mulai cara rasa kita, cara pikir kita, cara pandang kita dan cara laku kita. Kita harus semakin mendekatkan diri dengan Yesus dan menaruh kepercayaan kepadaNya agar kita dapat mencintai setiap tetes pengorbanan Yesus dengan cinta yang lahir dari sebuah hati yang hangat dan sederhana bagiNYA. Keutamaan Sebagai Seorang Hamba Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih dalam KRISTUS TUHANMarilah kita, saudara/i yang terkasih, memaknai peristiwa hari ini dengan hidup dalam keutamaan sebagai seorang hamba, hidup dalam Ketaatan kita sebagai anak-anak Allah yang setia mendengarkan Sabda Allah, hidup dalam semangat kerendahan hati, tidak saling curiga, sombong, iri hati, cemburu dan mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Sehingga mampu mengekang lidah untuk bergosip dan menceritakan kelemahan orang lain; hidup dalam semangat doa, membiarkan doa menjiwai seluruh hidup kita, sehingga kita sungguh mengalami Allah di dalam hidup kita, dan hidup dalam semangat penyerahan diri. Berani mati demi cinta kepada Yesus, menyerahkan nyawa demi seorang murid miliki lidah seorang murid, yang senantiasa mengeluarkan kata-kata berkat yang dapat membangkitkan semangat baru bagi orang yang letih lesu. Pendengaran yang tajamuntuk mendengarkan suara Tuhandalam Keheningan batin. Mata yang terarah kepada kebijaksanaan, Melihat Kasih di balik setiap rentetan ceritahati yang sederhana dan tulusMemberi hidup sehabis-habisnya. Salam dan doaku KASIH PUTIH dari HATI yang TULUS MENCINTAIBerkat dan doakuPastor Ryano Tagung, PrOmnia Sunt Gratia Caritate DeiSEMUA KARENA KASIH KARUNIA ALLAH!=1 Kor 1510= Servire Dio Con Amore e GioiaMelayani Allah dengan Cinta dan Sukacita
SD Kelas 5 Bab 2 – I – Yesus Menderita, Wafat, dan Bangkit. 1 Pendahuluan. Bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan dari bangsa Belanda dan Jepang. Banyak orang telah melakukan perlawanan terhadap para penjajah hingga gugur. Mereka itulah yang disebut pahlawan kemerdekaan. Mereka rela mengorbankan apapun termasuk hidupnya demi bangsa Indonesia. Pengorbanan mereka pada akhirnya membuahkan kemerdekaan Indonesia. Dari sudut pandang iman manusia juga mengalami penjajahan. Penjajahan yang dimaksud bukan penjajahan oleh suatu bangsa, melainkan manusia dijajah oleh kuasa setan. Hal ini tampak dari perbuatan manusia yang cenderung berdosa, seperti Adam dan Hawa, Kain, rakyat Sodom dan Gomora, dan sebagainya. Dengan kekuatannya sendiri manusia ternyata tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosa. Melihat hal itu, Allah berbelas kasih hingga mengutus Anak-Nya yang tunggal sebagai penebus dosa. Dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya Yesus telah menyelamatkan umat manusia, sebagaimana tergambar dalam perjamuan terakhir. Doa Allah Bapa di surga, kami mengucap syukur kepada-Mu atas segala anugerah-Mu yang kami alami hingga saat ini. Kami mohon terangilah pikiran dan hati kami agar kami dapat belajar dengan baik. Kami mau belajar tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Putera-Mu semoga kami mampu menguatkan iman kami kepada-Mu. Demi Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin. 2 Mengamati Pengalaman Berkaitan dengan Orang yang Mau Mengorbankan Diri. – Kita tahu bahwa Negara kita Indonesia dahulu pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan itu, banyak orang yang berjuang dengan gagah berani, bahkan rela mati demi mengusir penjajah. Mereka itulah para pahlawan. Coba buatlah ringkasan tentang kehidupan salah seorang pahlawan yang gugur demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia. Misalnya Ringkasan Pahlawan Teuku Umar. Teuku Umar bertempat tinggal di Meulaboh, bagian barat Aceh, anak dari Teuku Mahmud. Ia seorang pemberani. Kegemarannya melakukan pengembaraan. Pada usia sekitar 16 tahun, Teuku Umar mengembara selama dua tahun tanpa meminta nafkah dari orang tuanya. Selama pengembaraannya ia belajar berbagai ilmu, termasuk pencak silat. Dari berbagai pengembaraannya, Teuku Umar semakin cinta pada tanah airnya. Pada tahun 1871, Inggris dan Belanda membuat perjanjian Sumatera. Isi perjanjian itu yang terpenting adalah bahwa Belanda boleh bebas bergerak di dalam daerah Aceh. Rakyat Aceh sangat marah mengetahui isi perjanjian tersebut. Seluruh rakyat Aceh merasa bahwa perjanjian antara orang-orang Belanda dengan Inggris itu adalah perbuatan yang merampas kemerdekaan rakyat Aceh. Kemarahan itu sebenarnya sudah lama terjadi, yaitu kira-kira tahun 1857 ketika daerah Siak mulai diduduki Belanda. Teuku Umar beserta seluruh rakyat bertekad mengusir para penjajah itu. Mereka berunding dan sepakat mengangkat Nanta Satia sebagai pemimpin tertinggi perjuangan Kemerdekaan. Nanta Satia adalah hulubalang VI Mukim Aceh Besar. Dan perang akan dikobarkan di daerah VI Mukim dalam tahun 1873. Teuku Umar pada waktu itu berumur 19 tahun, sebelum berangkat berperang ia pamitan kepada orang tuanya. Orang tuanya sangat terharu dan bangga. Pada waktu perang berkobar, prajurit-prajurit Aceh sangat bersemangat, meskipun persenjataan mereka kalah dari persenjataan Belanda. Tentara Belanda mulai kewalahan menghadapi rakyat Aceh yang mahir hidup di hutan. Mengingat pengalaman itu, Belanda mulai meningkatkan kemampuan dalam bertempur di medan hutan. Berkat latihan itu, Belanda mulai menguasai medan perang. Tentara dan rakyat Aceh mengalami kekalahan. Mempelajari situasi itu, Teuku Umar mengembangkan siasat perang dengan merebut sebanyak-banyaknya persenjataan tentara Belanda dengan menyusup ke pihak mereka. Atas dasar siasat tersebut, selanjutnya Teuku Umar menyerahkan diri kepada Belanda. Belanda sangat senang dan Teuku Umar diserahi tugas untuk melatih tentara Belanda keterampilan berperang di hutan. Teuku Umar melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Teuku Umar melatih tentara Belanda dengan sangat keras sehingga banyak yang mengalami sakit dan meninggal. Tentara Belanda berkurang persenjataannya. Selesai latihan, tentara Belanda di bawah pimpinan Teuku Umar diperintahkan menumpas perlawanan rakyat Aceh. Dalam pertempuran ini banyak jatuh korban pada kedua belah pihak. Perjuangan rakyat Aceh tidak lama, mereka segera mundur dari medan perang. Belanda sangat gembira menyaksikan hal itu. Dan Teuku Umar mendapat kenaikan pangkat dan hadiah. Demikianlah, ketika sebuah kapal Inggris bernama Nicero terdampar dan kemudian dirampas oleh Raja Teunom, Teuku Umar ditugasi untuk membebaskan kapal tersebut. Pembebasan itu membawa ketegangan antara Belanda dan Inggris. Dalam pembebasan itu, Teuku Umar membawa persenjataan sangat banyak. Beberapa waktu setelah upacara pemberangkatan, Belanda dikejutkan dan digemparkan oleh berita yang menyatakan bahwa semua tentaranya dibunuh di tengah laut dan senjatanya dirampas oleh Teuku Umar sendiri. Teuku Umar berbalik ke rakyat Aceh, yang disambut dengan sangat gembira. Dengan itu rakyat Aceh punya persenjataan sangat banyak dan Belanda menjadi lemah. Selanjutnya rakyat Aceh menyerbu Belanda yang dipimpin Teuku Umar dan berhasil dengan gemilang merebut daerah VI Mukim. Pada tahap kedua, Teuku Umar menggunakan siasat yang sama. Ia pura-pura menyerah kepada Belanda dan mendapat kepercayaan. Kepercayaan yang didapat itu dipakai untuk mengumpulkan persenjataan bagi rakyat Aceh. Rakyat Aceh tidak tahu maksud Teuku Umar sehingga mereka marah kepada Teuku Umar. Ketika Teuku Umar berbalik kembali kepada rakyat Aceh mereka sangat gembira. Sehingga mereka berhasil mengalahkan kembali tentara Belanda. Melihat situasi itu Belanda mengirim pasukan khusus yang dipimpin Jenderal Van Houts. Pada bulan Februari 1899, Van Houts berada di Meulaboh tanpa pengawalan yang ketat. Mengetahui hal itu, Teuku Umar bermaksud menyerbu pasukan Van Houts. Malang bagi Teuku Umar dan tentaranya karena rencana mereka diketahui oleh Belanda. Sehingga Teuku Umar dan tentaranya dapat dikalahkan. Teuku Umar meninggal. 3- Mengungkapkan Pertanyaan. a Membuat pertanyaan pribadi. Setelah membuat sinopsis secara pribadi dan mendengarkan atau membaca sinopsis teman-teman, susunlah pertanyaan berkaitan dengan sinopsis tersebut, misalnya 1Bagaimana situasi hidup yang dialami para pahlawan? 2Apa yang dilakukan para pahlawan? 3Mengapa para pahlawan mau melakukan hal itu? 4Apa akibat dari tindakan para pahlawan? 5Mengapa masyarakat mengenang jasa para pahlawan? 6Apa arti mengenang jasa para pahlawan? b Membuat pertanyaan bersama. Setelah membuat pertanyaan pribadi, diskusikan pertanyaanmu dengan pertanyaan-pertanyaan temanmu sekelas. Pilihlah pertanyaan-pertanyaan pokok untuk dipelajari bersama berkaitan dengan sinopsis cerita tentang pahlawan tersebut. Misalnya enam pertanyaan di atas yang akan dijawab bersama. 4 Mendiskusikan Pertanyaan yang telah Disepakati Kelas. Untuk menjawab 6 pertanyaan di atas, coba carilah informasi secara pribadi. Setelah mendapat jawaban pribadi, selanjutnya berdiskusilah dengan teman-temanmu yang juga telah mendapat jawaban secara pribadi. Adakah jawaban yang sama atau berbeda? Carilah keterangan dari jawaban teman-temanmu, baik yang sama maupun yang berbeda. Untuk jawaban yang berbeda, manakah jawaban yang lebih masuk akal dan dapat diterima? Berdasarkan jawaban dari teman dan jawabanmu, buatlah rangkuman jawaban dari pertanyaan di atas. Beberapa catatan tambahan – Para pahlawan merasakan bahwa masyarakatnya mengalami penindasan, ketidak-adilan, dan penderitaan. Sesuai dengan kemampuannya, mereka berjuang untuk mengatasi hal itu. Mereka melawan para penindas dan pelaku ketidakadilan. Mereka tidak ingin masyarakatnya mengalami situasi penindasan, ketidakadilan, dan penderitaan itu. – Tindakan-tindakan penindasan dan ketidakadilan itu, menurut pembukaan UUD 1945 tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Tindakan penindasan atau penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Para pahlawan rela mengorbankan apapun, bahkan jiwanya demi perjuangannya itu. Banyak di antara mereka ditangkap, dimasukkan penjara, atau dibuang ke tempat yang jauh dengan harapan, mereka menghentikan perjuangannya. Namun selepas dari pembuangan atau penjara, mereka tetap meneruskan perjuangannya. Di antara mereka bahkan ada yang dibunuh. – Para pahlawan tidak mati sia-sia. Semangat dan perjuangan mereka tetap dikenang dan diteruskan oleh masyarakatnya. Masyarakat menyadari bahwa apa yang dialami sekarang ini berkat perjuangan para pahlawan. Meskipun para pahlawan telah wafat, namun semangatnya tetap hidup di tengah masyarakatnya. 5 – Mendalami Kitab Suci Matius 26 ayat 26-29, dan bab 27 ayat 1, bab 28 ayat 10. Kitab Suci Matius 26 ayat 26-29 dan bab 27 ayat 1- 28 10. Matius 26 ayat 26-29. Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi Aku berkata kepadamu mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.” Matius 27 ayat 1- 66. Ketika hari mulai siang, semua Imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu. Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.” Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing. Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.” Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus “Engkau sendiri mengatakannya.” Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawaban apa pun. Maka kata Pilatus kepada-Nya “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran. Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. Dan pada waktu itu, ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Barabas. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru “Ia harus disalibkan!” Katanya “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak “Ia harus disalibkan!” Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disiksa/dihukum cambuk lalu diserahkannya untuk disalibkan. Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya “Salam, hai raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata Aku adalah Anak Allah.” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata “Ia memanggil Elia.” Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.” Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan un-tuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu be-sar ke pintu kubur itu, pergilah ia. Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu. Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” Kata Pilatus kepada mereka “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.” Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya. Matius 28 ayat1-10. Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.” Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” b Mencari inspirasi dari Kitab Suci. Membaca kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus di atas, tentu muncul berbagai pertanyaan di dalam hati kita. Misalnya seperti yang sudah tertulis di bawah ini. Coba jawablah pertanyaan berikut pada kolom yang disediakan
Bacaan – Sebelum Perarakan atau Bacaan Ekaristi Yes. 504-7; Flp. 26-11; Mrk 141-1547 Sebelum Perarakan … Hari ini Pekan Suci kita buka dengan merayakan Minggu Palma atau Minggu daun-daun. Hari dimana prosesi agung, pawai mulia-meriah Yesus masuk kota Yerusalem disertai sorak-sorai, suatu pawai kebesaran. Pawainya Yesus ini bukanlah suatu kebetulan. Hal ini sengaja Yesus lakukan dengan tujuan mau memperlihatkan kepada semua orang, siapa Dia sebenarnya sebelum Ia masuk dalam penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib, palang penghinaan. Dia adalah Al-masih yang dijanjikan para nabi; Dia adalah Raja yang akan datang untuk membawa damai bagi semua orang yang berkenan kepada Allah; Dia adalah penebus dan Juruselamat seluruh dunia. Peristiwa hari ini mengajak kita untuk berani menentukan pilihan dan sikap iman yang tegas dan benar. Sikap iman yang tidak gampang dimakan kemajuan zaman, digeser oleh kepentingan diri dan mencari aman, yang tidak gampang goyah, bimbang dan ragu, yang tidak menjadi orang beriman Katolik yang ikut arus, ikut ramai dan ikut-ikutan, beriman yang plin-plan, yang kabur dan suram, yang cuma “napas” dan musiman. Sorak ria “Hosana” yang melengking penuh sukacita, berani dan bangga bahwa kita punya Juruselamat, tidak akan gampang berubah dan berbalik sekejap dengan sorak pengkhianatan “Salibkan”. Daun-daun palma yang dilambai-lambai penuh sukacita itu, kiranya tidak begitu saja berbalik untuk kita gunakan memukul, mencambuk dan mencabik Yesus itu dalam ziarah hidup iman kita. Tangan-tangan-tangan yang melambai terulur gemulai, kiranya tidak begitu saja berbalik menjadi tangan-tangan kasar tak berperasaan menampar dan menudin Yesus yang kita kita banggakan dan kita muliakan. Apakah kita lebih baik dan lebih sempurna dari khalayak ramai di Yerusalem itu? Kepada dua murid yang diutus Yesus berpesan untuk si pemilik keledai, “Tuhan memerlukannya”. Dan saat ini dan hari-hari hidup kita selanjutnya, Tuhan tidak lagi memerlukan keledai, tetapi Ia memerlukan kita untuk diselamatkan. Tuhan memerlukan kita untuk membawa kasih, damai, pengampunan, cinta kepada orang lain. Tuhan memerlukan hati kita, keluarga kita, Komunitas kita untuk bersama-Nya masuk Yerusalem abadi surgawi. Mari kita berjalan bersama Dia walau untuk itu kita pun mengalami banyak resiko, tantangan, penderitaan, salib, kehilangabn, dikhianati. Semoga sekali Yesus tetap Yesus dan selamanya Yesus! Sesudah bacaan… Hari ini kita mengenang sengsara Tuhan Yesus Kristus diawali dengan kisah Yesus masuk kota Yerusalem, dan kisah-kisah yang terjadi selanjutnya ialah pengkhianatan, penolakan dan penyaliban. Masyarakat jelata menyambut Sang Raja, Mesias sebagai tanda damai dalam kelemahan dan kerendahan hati sebagi Sang Raja yang menawarkan kemenangan dan damai sejahtera melalui salib dan kebangkitan yang akan segera terjadi pada hari Paskah. Yesus menawarkan damai, sukacita dan hidup abadi bagi siapa pun yang menerima-Nya. Yesus menggunakan keledai pinjaman. Memang dalam banyak peristiwa dan hidup Yesus, Ia menunjukkan betaoa Allah menjadi manusia itu adalah yang tidak punya apa-apa dan miskin agar kita menjadi kaya karena kemiskinan-Nya. Ketika Yesus mengajar, Ia pinjam perahu orang, Ia pinjam roti dan ikan dari bekal seorang anak kecil untuk memberi makan orang banyak. Bahkan ketika Ia lahir, Ia pinjam palungan tempat makan binatang untuk diletakan, ketika kematian pun Ia pinjam kubur orang, dan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia, Ia pinjam hati manusia. Kini Ia pinjam keledai orang untuk masuk Yerusalem. Yesus Sang Raja damai dan sederhana itu, tidak mencari kemegahan, tidak cari pujiam, tidak cari muka, tidak cari oangkat dan popularitas diri. Karena Ia tahu semuanya itu percuma, tidak ada arti, semu, tidak penting. Bagi Yesus adalah melakukan kehendak Bapa-Nya, taat dan setia. Karena itu, Yesus juga pilih keledai, binatang bodoh itu tapi setia pada tuannya, teguh, kuat, tidak liar, dan tidak takut ketika berhadapan dengan orang banyak yang teriak dan bersorak-sorai. Keledai bidantang bodoh itu tapi dengan tenang maju perlahan. Saat ini, kita pun diajak untuk merelakan diri, hati dan hidup, juga keluarga, komunitas, untuk dipakai oleh Tuhan membawa damai-Nya karena Tuhan memerlukan. Tuhan memerlukan yang setia, taat, teguh, tidak takut, tidak liar, tidak lari dari Dia dan dari iman kepercayaan kepada-Nya, dan terus membiarkan diri untuk sang Raja Damai masuk hati, hidup, keluarga dan komunitas kita, juga ketika kita harus mengalami penderitaan dan penolakan. Sambi berlangkah bersama-Nya, kita berdoa Tuhan Yessus Kristus, jadilah Raja bagi hati, budi, hidup dan keluarga kami. Semoga kami senantiasa merenungkan kelembutan dan kerendahan hati-Mu sebab hanya Dikau yang layak disembah sebagai Raja kemuliaan, kini dan sepanjang masa.** Kotbah…. Ketiga bacaan hari ini yang baru saja kita dengar, sangat berkaitan satu sama lain. Yang mau dinyatakan di sini adalah Kristus utusan Allah yang menderita. Nubuat Yesaya dalam bacaan pertama, tentang “Hamba yang menderita”. Kepasrahan kepada Allah dan cita kepada manusia memberanikan Yesus untuk menghadapi jalan yang terpahit drkslipun; sebab Dia meyakini kepastian bahwa tugas perutusan-Nya tidak akan sia-sia. Dan pesan yang mau disampaikan ialah hidup di zaman sekarang mungkin sulit sekali menghargai sebuah pelayanan. Ada banyak pelayanan yang tidak dihargai, tidak diterima atau ditolak. Yesus sang pelayan, hamba yang setia dan menderita memilih jalan pelayanan yang tidak dipilih dan diminati banyak orang ialah hamba yang menderita. Selanjutnya, kepada jemaat di Filipi dalam bacaan kedua, Paulus mengutip sebuah madah yang biasa digunakan dalam ibadah untuk memuji keagungan Yesus Kristus dan pelayanan-Nya sebagai manusia. Terungkap betapa besar pelayanan Yesus Kristus bagi manusia, dengan menyerahkan hidup-Nya sendiri. Paulus mengajak jemaatnya dan kita supaya memiliki perasaan hati seperti Kristus dengan hidup dalam kerendahan hati, cinta dan kerukunan antara satu sama lain. Penyerahan diri Yesus berkenan bagi Allah dan membuka suatu mutu kehidupan secara istimewa. Kematian Yesus Kristus merupakan sebuah titik balik bagi kehidupan. Allah berkuasa atas kehidupan itu akhirnya menerima kematian Yesus sebagai sebuah persembahan yang berkenan. Karena itu sebagai orang beriman diharapkan juga punya kerelaan dan keberanian untuk melayani Allah dan sesama sebagai sebuah persembahan yang indah dan yang berkenan. Kisah sengsara di awal pekan suci ini, mengajak kita untuk menyadari bahwa; Yesus memerlukan teman berjaga. Apakah kita siap untuk ikut berjaga bersama Dia? Berjaga dalam menghadapi penderitaan, salib dan kematiaan. Berjaga dengan sungguh dan sepenuh hati, dengan penuh iman, sambil berusaha agar dijauhkan dari pencobaan, diluputkan dari yang jahat, dibebeaskan dari segala ancaman yang membahayakan hidup iman. Yesus membutuhkan orang yang diajak kerjasama. Apakah sebagai murid-Nya, kita siap bekerjasama dan membantu dalam berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi Yesus dan sesama atau kita melarikan diri, tidak bersedia, lepas tanggungjawab, cuci tangan, cari gampang, acuh tak acuh dan masa bodoh. Yesus membtuhkan suatu pengakuan yang jujur, yang benar dan berani tentang Dia; dan tidak tidak mudah menyangkal-Nya seperti Petrus yang begitu mudah menyangkal. Kita ternyata lebih mudah menyangkal janji-janji kesetiaan kita dalam hidup sebagi suami-istri, orangtua, sebagai anak dalam tugas dan pelayanan kita, juga sebagai orang beiman kita mudah ingkar janji batis kita/ Kita lebih mudah tidak setia daripada harus setia sampai akhir. Ketika orang banyak menganggap dan menuduh Yesus sebagai penjahat, apakah kita berani menunjukkan keunggulan-keunggulan Yesus dan berani memberi kesaksian tentang Yesus atau justru berbalik menuduh, memfitnah dan memutarbalikan kebenaran, Ketika Yesus wafat di salib, para murid-Nya berdiri di kejauhan bahkan lari meninggalkan Yesus. Apakah kita para murid jaman ini berani mendekat, berani datang kepada-Nya, merasa senasib, sehati dan sepenanggungan dengan sang Juruselamaat, atau kita Cuma menjadi penonton, Cuma kritik dari jauh, Cuma persalahkan dari jauh, Cuma berani omong di belakang-belakang, Cuma main sembunyi-sembunyi. Yesus menyatakan kesetiaan-Nya yang tuntas pada salib. Salib sebagai sebuah resiko dari suatu perjuangan, resiko dari suatu kesetiaan dan ketaatan, pengorbanan dan cinta yang total dan sempurna. Salib adalah jalan untuk mencapai keselamatan dan kesempurnaan serta kebahagiaan. Karena itu, kita pun diajak untuk berjalan bersama Yesus, agar pada akhirnya kita pun dimuliakan bersama-Nya. Sebab yang bertahan sampai akhir, akan memperoleh mahkota kemuliaan yang abadi. Tuhan Yesus, berkatilah kami, semoga kami setia dan bertahan bersama-Mu sampai akhir.*** Ditulis oleh Rm. Fransiskus Emanuel da Santo, Pr; Sekretaris Komkat KWI
SENGSARA, WAFAT, DAN KEBANGKITAN YESUSSENGSARA, WAFAT, DAN KEBANGKITAN YESUS
kita mengenang sengsara dan wafat yesus dengan melakukan doa